BAB II

TINJAUAN UMUM GAYA HARAJUKU DAN GAYA GRAFIS

 

2.1.            Fesyen / Mode

 

Sebelum masuk kedalam pengertian fesyen, penulis merasa perlu untuk mengupas tentang kedudukan fesyen dalam peta garis besar desain, proses produksi dan relasi-relasi lainnya.

Fesyen (dalam pengertian mass Fashion) termasuk salah satu bagian dunia desain. Sebab ia dekat dengan unsur-unsur permasalahan dalam desain dan tuntunan dalam kebutuhan serta pemecahan masalah dalam masyarakat konsumen. Seperti masalah ekonomi, politik, sosial/budaya, teknologi, seni, faktor-faktor lingkungan dan sebagainya.

Untuk merujuk pada pengertian kamus, fesyen dan mode mempunyai kesamaan pengertian, yaitu “cara”. Dalam pengertian kamus fesyen bersinonim dengan istilah “mode”. Istilah old fashioned atau out of fashion dapat diartikan dengan cara atau mode lama atau mode yang ketinggalan jaman atau tidak mode lagi. Sementara istilah in fashion/ fashionable mempunyai pengertian sebaliknya yaitu sedang menggemari orang, sedang popular atau modern (sesuai dengan mode terakhir).

Gini Stephen Frings dalam bukunya Fashion From Concept To Customer (1987; h.46) yang dikutip dari tesis Haldani, mendefinisikan bahwa fesyen adalah gaya yang sedang terpopuler pada saat tertentu. Istilah fesyen mengandung tiga komponen yaitu Style Acceptance dan Timeliness, dimana style (gaya) berkaitan dengan karakteristik kelas atau ciri dalam pakaian atau dalam asesoris, Acceptance (daya tembus pasar) berkaitan dengan daya tariknya terhadap pasar dan Timeliness (perubahan) berkaitan dengan perubahan siklus fesyen. Fesyen menurut Frings adalah produk yang senantiasa berubah.(Haldani, 2000;h.6).

Definisi ciri tersebut barangkali sejalan dengan uraian Rizali dalam Tesisnya, yaitu bahwa kata mode barasal dari bahasa Prancis mode, sementara menurut kamus mengutip dari Echols dalam Shadily (, 1989;h.384,234), kata mode diartikan sebagai cara, yang bersinonim dengan kata “Fesyen” yaitu mode yang terbaru yang sedang digemari atau yang sedang popular.

Gayatersebut berlaku untuk kurun waktu tertentu, tersebar secara marak di masyarakat dan senatiasa berubah seiring dengan berbagai peristiwa, anekagayahidup dan kepentingan industri tekstil atau garmen.

Rizali juga mengutip pengertian fesyen menurut Sidney Packard dalam buku The Fashion Business, yang pada hakikatnya adalah “Heat which acceptance by substantial group of people at a given time and place”. (Packard,1983;h.2). Dengan demikian menurut Rizali, secara umum mode atau fesyen dapat diartikan sebagai garis-garis rancangan yang dibuat serta diperlihatkan kepada kelompok-kelompok masyarakat untuk dinilai dan diterima. Rancangan tersebut baru dapat disebut fesyen apabila masyarakat menerimanya. Jadi, kehadiran mode sangat ditentukan oleh penerimaan masyarakat. Ciri kemudian akan menjadi gaya hidup, menjadi mode atau panutan pada masa dan tempat tertentu. Kesimpulan dari atas mengenai pengertian mode atau fesyen adalah suatu cara terbaru (sedang popular) dalam kegemaran perilaku, selera, gaya hidup atau gaya berbusana yang telah diterima oleh masyarakat berlangsung terus menerus dalam kurun waktu, lingkungan dan tempat tertentu serta dapat meliputi bidang lain-lain. (Rizali, 1992;h.31).

Dengan demikian penulis menyimpulkan bahwa pengertian fesyen yang telah diutarakan berbagai sumber diatas secara tegas mempunyai kesamaan makna, yaitu bahwa fesyen merupakan gaya yang sedang populer pada tempat dan kurun waktu tertentu, mempunyai kaitan erat dengan istilah mode dan style, serta bersangkut paut dengan masalah daya tembus (penerima, acceptance) pasar, dan perubahan waktu (timeliness).

 

2.2.Pakaian

 

Didalam kehidupan sehari-hari manusia tidak akan luput dari barang yang selalu digunakan dalam berbagai aktivitas. Adapun pengertian secara umum mengenai pengertian tantang pakaian adalah sebagai berikut;

Pakaian adalah kebutuhan pokok manusia selain makanan dan tempat berteduh/tempat tinggal (rumah). Manusia membutuhkan pakaian untuk melindungi dan menutup dirinya. Namun seiring dengan perkembangan kehidupan manusia, pakaian juga digunakan sebagai simbol status, jabatan, ataupun kedudukan seseorang yang memakainya. Perkembangan dan jenis-jenis pakaian bergantung pada adat-istiadat, kebiasaan, dan budaya dimana masing masing bangsa memiliki ciri khas masing masing.

 

Jenis-jenis pakaian

Adapun jenis-jenis pakaian yang secara tampak terlihat dalam kehidupan sehari-hari adalah: kemeja, t-shirt, kaus,  kaus Kaki/Tangan,  jubah,  Jilbab,  Celana, Syrwal (Celana setengah betis), Topi, Dasi, Sarung, dan  Rok

(“http://id.wikipedia.org/wiki/Pakaian“)

 

2.3.            Fesyen dalam Budaya

 

Fesyen dapat dikaitkan dengan budaya, karena didalam dunia fesyen, budaya akan sangat berpengaruh dalam perkembangan fesyen di dunia. Dengan kata lain bahwa fesyen merupakan unsur-unsur permasalahan dalam desain. Timbulnya budaya dalam dunia fesyen dapat dilihat dari fesyen-fesyen yang muncul di Indonesia yang merupakan pengadopsian dari budaya luar. Kebudayaan sendiri mengandung pengartian sebagai berikut:

Pengertian dan masalah kebudayaan telah banyak diperdebatkan dan dipermasalahkan. Kebudayaan dapat dipandang sebagai sesuatu yang positif maupun negatif, sebagai faktor pendukung maupun sebagai faktor penghambat. Kebudayaan juga sering dipandang sebagai latar belakang perjalan masa kini bahkan sebagai masalah-masalah di masa yang akan datang. Semua ini berkenaan dengan upaya manusia untuk tetap dapat bertahan. Persoalan hidup dan naluri untuk dapat tetap hidup telah melahirkan perilaku yang pada gilirannya telah menempatkan manusia sebagai pelaku kebudayaan satu-satunya. Baik alam gaib, bukan pula hewan. Melalui kegiatan kebudayaan tersebut, sesuatu yang pada awalnya merupakan kemungkinan belaka, berubah dan diwujudkan dalam berbagai penciptaan-penciptaan baru yang kelak mengharapkan manusia pada sekian alternatif pilihan. Apa, dari mana, dan untuk apa?. Kebudayaan mengandung harapan dan idealisme manusia tentang kualitas hidupnya secara baik dan teratur. Dari sanalah terciptanya karya budi yang mentrasformasikan data, fakta, situasi serta kejadian alam menjadi sesuatu yang bernilai bagi manusia, seperti rumah, obat, karya sastra, pesawat, kemakmuran dan sebagainya.

Selanjutnya untuk membahas pengertian kebudayaan, penulis mengambil kutipan dari yang telah ditulis oleh Prastya dkk yang berada dalam tesisnya Haldani. adalah sebagai berikut :

Pengertian budaya (Culture=Inggeris, Cultuur=Belanda)berasal dari perkataan latin Colere yang artinya : mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan terutama mengolah tanah atau bertani. Dari arti tersebut kemudian berkembang menjadi segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.

Dalam bahasa Indonesia, kebudayaan merujuk pada pengertian Sansekerta Buddhayah yaitu bentuk jamak dari Buddhi yang berarti budi dan akal. Selanjutnya diuraikan oleh Prasetya, bahwa kata budaya merupakan pengemban dari kata majemuk budi daya yang berari daya dan budi, oleh sebab itu pengertian budaya dan kebudayaan dipisahkan.(Haldani, 2000;h.8)

Adapun pengartian lain mengenai budaya yang berhubungan dengan daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa, semntara kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa tersebut. Untuk mendefinisikan kebudayaan oleh penulis tersebut dikutip beberapa pendapat para ahli, seperti :

 

  1. EB.Taylor : kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan lain, serta kebiasaan yang di dapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
  2. R. Linton : bahwa kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku yang unsur-unsur pembentukannya didukung dan diteruskan oleh anggota dari masyarakat tertentu.
  3.  C.Kluckholn dan W.H.Kelly : sebagai pola untuk hidup yang terdapat dalam sejarah, yang eksplisit, implicit, rasional, irasional yang terdapat pada setiap waktu yang pedoman-pedoman yang potensial bagi tingkah laku manusia.

 

Pada perkembangan berikutnya mengenai hal di atas timbul kajian atas istilah kultur dan sivilisasi atau kebudayaan dan peradaban. Namun berdasarkan berbagai teori dan pendapat, kedua makna itu sama-sama tidak dapat dipisahkan dari keduanya tetap saling mempengaruhi. Kultur barkisar pada persoalan aktifitas kreatif dari nilai-nilai, sementara sivilisasi berkisar di masalah ide, karsa, alat, dan lambang-lambang. Kultur adalah what we are, sementara sivilisasi adalah what me us (tranformasi ide kedalam wujud-wujud yang lebih nyata).

 

2.4.            Gaya dan Pembentukan Kebudayaan Urban Sebuah Kota

 

Keragaman kota dapat tercermin dari banyaknya perspektif dalam memandang sebuah kota. Salah satu yang bertautan erat dengan pencitraan dan budaya adalah perspektif urban kultur seperti yang digambarkan oleh Savage dan Warde (1993) ; “different cities and different quarters support alternative, and sometime competing, patterns of cultural existence”.

Sudut pandang ini berpandapat bahwa pola eksistensi kebudayaan alternatif inilah yang membedakan sebuah kota dengan yang lainnya. Kebudayaan alternatif sendiri dapat dipecah dalam dua hal yang bertautan: Interpretasi dan pangkomunikasian. Dengan kata lain, kekentalan atmosfer sebuah kota akan terasa pada interpretasi dan pengkomunikasiaan sebagai hal yang spesifik pada sebuah kota. Interpretasi dan komunikasi ini sendiri terjadimelalui berbagai media dengan berbagai upaya pencitraan mulai dari berpakaian, cara berkumpul dan berkelompok, sampai cara menggunakan ruang kota.

Beberapa pemikiran pada abad ini juga menaruh perhatian yang sangat pada kecenderungan urban culture. Salah seorang adalah Benjamin (1892-1940) yang dalam esainya On Some Motifs In Baudelaire seperti ditulis di Savage dan Warde (1993), menarik kesimpulan bahwa ada sebuah fenomena yang begitu serupa pada setiap kota, tetapi berbeda gejala pada konteks tempat dan waktu kejadiannya. Kebudayaan urban adalah kebudayaan yang tumbuh dan interpretasi dan pengkomunikasian berbagai hal yang dirasakan serta dialami oleh penghuni kota. Semacam kolase dari berbagai keping-keping informasi. Berbagai hal menyebabkan perpautan begitu banyak kemiripan antara semua kota ini ; komunikasi, mode, arsitektur, bisnis, teknologi, dan lain-lain, sementara konteks kotanya sendiri di lain pihak dapat mempunyai akar kontekstual yang berbeda-beda.

Menurut Simmel (1950) dalam esainya The Metropolis and Metal Life seperti tertulis di Savage dan Warde, ada beberapa ciri bentukan budaya yang begitu khas dan saling berkaitan di dalam konteks budaya urban. Para penghuni kota berdasarkan berbagai macam tindakan mereka secara intelektual. Pemunculan Blasé, sejenis topeng yang sengaja dibuat untuk menampilkan diri ke orang lain, menyelubungi perasaan serta ekspresi mereka yang sebenarnya. Referensi ini dimunculkan dari kehidupan pada kota modern. Secara umum, kata Blasé dapat diartikan sebagai penampilan citra diri. Secara timbal balik, hal ini juga berdampak terhadap pencitraan visual dari masing-masing individu, yang seringkali dicerminkan oleh style (gaya).

Pembauran makna ini menimbulkan suatu bentuk fenomena budaya yang begitu khas urban, sehingga kebutuhan untuk mengkomunikasikan berbagai pilihan dalam hidup seperti jenis musik, cara berpakaian, di dalam konteks ruang kota merupakan sebuah kebutuhan esensial. Saat ini adalah zaman `ekonomi kreatif`, di mana polesan desain, kemasan dan kemampuan pengembangan ide-ide lokal serta unik menjadi ujung tombak. Tak sekadar tampil beda tentunya, produk Distro juga dilandasi keinginan untuk membuat produk berkualitas namun tidak meniru atau mengekor pada produk dengan label yang sudah mapan, tetapi dengan mengadopsi dari gaya-gaya yang sedang marak pada saat ini. Dalam hal ini distro mencoba mendesain produknya dalam media kaos dengan cara menyatukan gaya-gaya yang sedang marak pada saat ini dengan tidak menghilangkan karakter dari distro tersebut. Aktivitas ini, perlahan-lahan membentuk dirinya sendiri, menciptakan semacam kantung-kantung budaya. Dalam konteks kebudayaan, kantung-kantung budaya inilah disebut subkultur.

 

2.5.            Fungsi Gaya dalam Berpakaian

 

Pada penjabaran yang telah diuraikan diatas kita sudah membahas defenisi tentang fesyen atau dapat dikatakan dengan gaya dalam berpakaian. Gaya dan pakaian didefinisikan atau dipandang dalam artian komunikasi budaya.

Fungsi pakaianpun melebar, bukan hanya untuk melindungi tubuh. Tetapi juga agar menjadi fashionable/In Fashion, selalu mengikuti tren yang sedang populer. Pakaian juga dapat dipergunakan sebagai penanda bagi pemakainya, alat untuk mengidentifikasikan kelompok sosial, ekonomi, dan martabat seseorang.

“sifat dari pakaian kita sangat kompleks. Pakaian juga merupakan banayk hal pada saat tertentu. Lingkup sosial kita, sistem penandaan dimana kita menyebarluaskan apa yang menjadi tujuan kita, termasuk juga proyeksi dari fantasi-fantasi kita. Pakaian adalah senjata kita, tantangan kita, kenistaan kita yang tampak semata-mata”.(Umberto Eco, 1972)

Adapun gaya terbagi atas tiga elemen, yaitu:

  1. Kesan, menempakan komposisi dari kostum aksesoris, semacam gaya rambut, perhiasan atu benda-benda lainnya.
  2. Cara berlaku/bertindak, membangun ekspresi, sifat berjalan dan postur. Terlihat pula disini apa yang dikenakan oleh sipelaku dan bagaimana ia mengenakannya.
  3. Bahasa/dialek, berpakaian dengan kosa kata khusus dan bagaiman itu dismapaikan.

Dalam penjabaran kali ini, penulis memusatkan perhatian pada gaya dalam berpakaian, berdasarkan perbedaan fungsi dan tugasnya. Fungsi gaya dalam berpakaian yang dapat dijabarkan sebagai berikut :

 

2.5.1.      Gaya Berpakaian Sebagai Identitas

 

Gaya dapat menentukan identitas seseorang, apakah dari kalangan atas atau dari kalangan bawah. Melihat dalam berbagai gayadiberbagai kelompok (suku) dimasyarakat, hal itu sudah dapat terlihat antara perbedaan yang secara visual dapat membedakan identitas seseorang. Lahirnya kelompok-kelompok dengan gayaberpakaian yang mempunyai ciri khas dari gayadandanannya dapat menentukan adanya identitas bagi kelompok tersebut. Misalnya saja fungsi tattoo dan lambang-lambang yang tertera di busana yang dikenakan seperti pada jaket, kemeja lengan pendek (emblem) dan lain-lain bagi kaum Rocker, pake dan peniti pada kaum Punk, atau kepala botak pada kaum Skin head.

Dalam masyarakat moderen, semua manusia adalah performer. Setiap orang diminta untuk bisa memainkan dan mengontrol peranan mereka sendiri.Gaya pakaian, dandanan rambut, segala macam aksesoris yang menempel, selera musik, atau pilihan-pilihan kegiatan yang dilakukan, adalah bagian dari pertunjukan identitas dan kepribadian diri.

Anthony Synott (1993) berhasil memberikan penjelasan yang bagus tentang rambut. Dalam beberapa hal, rambut tidak sekedar berarti simbol seks penanda laki-laki dan perempuan. Ia juga simbol gerakan politik kebudayaan tertentu. Menurutnya, model rambut yang berbeda menandakan model ideologi yang berbeda pula. Tahun 50-an yang membawa iklim pertumbuhan dan kemakmuran di Amerika ikut menghembuskan kebebasan ekspresi individual baru termasuk jenis model rambut baru. Model rambut yang dibentuk menyerupai ekor bebek menjadi sangat populer saat itu. Tokoh-tokoh utama jenis rambut ini adalah Elvis Presley dan Tony Curtis. Setelah itu berlangsunglah era model rambut beatnik look yang dipelopori oleh James Dean dan Marlon Brando.

Hebdige dalam bukunya yang berjudul Subculture : The Meaning of Style  menyelidiki gayadalam tingkat keotonominya sebagai penanda. Gayaadalah sebuah praktek penandaan signifying practice ,gaya adalah sebuah arena penciptaan makna. Di dalam kode-kode pembeda,gaya merupakan pembentuk identitas kelompok. Dalam subkultur remaja, barang-barang komoditas melalui konsumsi yang berikolase dijadikan alat perlawanan terhadap nilai-nilai dominan.Gaya adalah sebuah perang gerilya semiotik.

Dengan kata lain, gaya dapat menentukan identitas seseorang atau suatu kelompok di masyarakat. Karena dengan mengunakan gaya berpakain yang seperti itu, akan tampak siapa mereka, apa ideologi kelompoknya, apa cirinya dan apa karya-karya nyata mereka, baik atau buruknya, berubah-ubah atau statis. Artinya identitas berkaitan dengan siklus dan dinamika kehidupan dan jamanya. Gaya dalam menentukan identitas merupakan upaya melalui tanda untuk membedakan keanggotaan dan suatu lingkungan tertentu.

 

2.5.2.      Gaya Berpakaian Sebagai Komunikasi

 

Roach dan Eicher menunjukan, bahwa gaya/style secara simbolis mengikat satu komunitas (Roach dan Eicher, 1979; h.18). Hal ini menunjukan bahwa kesepakatan sosial atas apa yang dikenakan merupakan ikatan sosial itu sendiri yang pada gilirannya akan memperkuat ikatan sosial lainnya. Fungsi mempersatukan gaya/style dalam berpakaian berlangsung untuk mengkomunikasikan keanggotaan satu kelompok budaya baik pada orang-orang yang menjadi anggota kelompok tersebut maupun bukan.

Dalam artian perlindundungan dari unsur-unsur dari ceruk salju pada kulitnya, Yaggans, mengalami dan mengkomunikasikan tempatnya dalam tatana sosial tertentu seperti apa adanya dan nyaris dengan cara yang sama dengan orang-orang Eropa dengan pakaian yang rapuh dan nyaman. Wanita-wanita Masai, dengan rok pendek dan anting-anting kuningan yang absurd, juga mengkomunikasikan keanggotaan mereka pada suatu kelompok kultural dengan cara yang banyak kesamaannya dengan wanita-wanita Eropa yang akan dengan cermat memperhatikan agar tak menentang ketidaksopanan meski mengenakan rok mini yang absurd. Perlindungan, kamuflase, kesopanan, dan ketidaksopanan semuanya mengkomunikasikan suatu posisi dalam suatu tatana sosial dan budaya, baik pada anggota tatanan itu maupun yang berada di luar tatanan itu. Bagian ini akan melihatkan bagaimana gaya berpakaian dalam artian fungsi-fungsi komunikasinya. (Esai Holman, 1980)

 

2.5.3.      Gaya Berpakaian Sebagai Nilai Sosial/Status

 

Gaya dalam berpakian sering digunakan untuk menunjukan nilai sosial atau status, dan orang kerap membuat penilaian terhadap nilai sosial atau status orang lain berdasarkan apa yang dipakai orang tersebut. Status bisa merupakan hasil atau berkembang dari berbagai sumber, dari jabatan, dari keluarga, dari jenis kelamin, gender, usia atau ras, dan sebaginya. Nilai sosial itu bisa tetap atau bisa juga diubah: nilai sosial  yang tetap dikenal sebagai status “warisan” (ascribed) dan nilai sosial yang berubah dinamakan “hasil usaha” (achieved). Jadi, status yang diduduki oleh siapa saja dan dari kalangan mana saja. Semua budaya memberi perharian yang sangat besar untuk menandai dengan jelas perbedaan status ini. Budaya-budaya ini mungkin memberikan perhatian yang lebih besar pada orang-orang yang mengalami perubahan status. Kajian antropologis atas gaya dalam berpakaian, konsekuensinya, akan secara ekstrem menarik dalm megkaji fenomena tersebut selain menjadi contoh bagi status yang sengaja disamarkan atau dibuat tak jelas (Leach, 1976; h.55-60).

Semua budaya akan menggunakan pakaian, bila buat dengan gaya/style, untuk membedakan pria dari wanita yang kebanyakan akan menggunakan pakaian untuk menandai perbedaan antara kelas-kelas sekuler dan religious dan beberapa akan menggunakan pakaian untuk menandai keanggotaan dalam keluarga-keluarga yang berbeda.

(Barnard,2007; h. 86-88)

 

2.5.4.      Gaya Berpakaian Sebagai Ketidaksopanan dan Daya Tarik

 

Motivasi mengenakan pakaian adalah tepatnya ketidaksopanan atau ekshibionisme. Orang menegaskan bahwa tugas pakaian adalah untuk menarik perhatian pada tubuh dan bukan untuk mengalihkan atau menolak perhatian. Oleh karena itu, tubuh menjadi lebih terbuka sesuai dengan argumen ketidaksopanan, dan bukannya disembunyikan atau disamarkan, seperti menurut argumen kesopanan. Yang lebih menarik bahwa argumen kesopanan menekankan bahwa gerak menuju kemanusiaan yan penuh atau dipenuhi dengan mengenakan pakaian, sedangkan argumen yang berkaitan dengan ketidaksopanan menekankan pada gerak menuju status menyerupai bintang yang dipenuhi dengan mengenakan pakaian. Argumen-argumen yang menekankan pada kesopanan sebagai fungsi dari gaya dalam berpakaian dengan menekankan sisi kemanusiaan pemakainya; sedangkan argument-argumen yang menakankan ketidaksopanan cenderung menekankan sisi kebintangan pamakainya. (Barnard, 2007;h. 79-82)

 

2.5.5.      Gaya Berpakaian Sebagai Simbol Politis

 

Bekerjanya kekuasaan pun jelas sangat erat terkait pada status sosial dan ekonomi. Dan jelaslah bahwa gaya berpakaian pun terkait erat dengan bekerjanya kekuasaan. Namun, adalah sangat tepat untuk mencoba menjaga isu-isu analistis ini terpisah dari masalah-masalah tersebut. Roach dan Eicher menunjukan bahwa “dandanan sudah sejak lama memiliki tempat di istana kekuasaan”, dan meski ditekankan bahwa baik gaya/style maupun non atau anti-fesyen bisa dianalisis dalam artian apa yang ditunujuk dengan dandanan itu, mana yang sendirinya bukan gaya/style, yang bisa digunakan untuk mengilustrasikan bekerjanya kekuasaan.

Roach dan Eicher menunjukan bahwa Napoleon “memperkenalkan kembali jenis-jenis busana yang merupakan simbol-simbol negara dari rezim lama untuk mendukung legitimasi kekaisarannya”. Mode-mode pakaian dari rezim sebelumnya digunakan dalam upaya untuk memberikan legitimasi pada rezim baru dengan membajak beberapa kebesaran razim sebelumnya. Hal ini merupakan contoh relasi anatara pakaian dan “Kekuasaan”; disini kekuasaan dijalankan dengan operasi dan legitimasi negara; dan pakaian digunakan sebagai salah satu cara untuk membantu mencapai operasi dan legitimasi tersebut. (Roach dan Eicher, 1979;h. 16)

 

2.6.            Nilai-nilai Unsur Visual Desain pada Gaya (style)

 

Gaya/style mempunyai nilai-nilai dalam unsur visual desain. Nilai-nilai yang dimaksud adalah gaya/style dapat menentukan karakter bagi pengguna gaya/style tersebut. Misalnya, bagi pengguna gaya/style atau pakaian dengan motif bola-bola (Polkadot) atau motif bunga-bunga, dapat menimbulkan bahwa bagi pengguna style tersebut dapat dikatakan bahwa adanya unsur kegembiraan atau adanya kesenangan hati. Didalam unsur visual desain, warna dapat mempengaruhi tingkah laku dari pengguna gaya/style tersebut. Karena warna dapat menggambarkan ciri-ciri kepribadian seseorang hanya dengan mengguna gaya/style. Atau juga dapat menimbulkan keadaan emosional seseorang. Dengan demikian warna dapat berperan sangat penting dalam kehidupan manusia, seperti pada alam emosi dan perilaku seseorang.

Tidak hanya warna yang dapat mempengaruhi gaya/style dalam unsur visual desain, tetapi garis juga dapat menentukan visual dari gaya/style, seperti pada garis bergelombang/ melengkung atau meliuk-liuk dapat menimbulkan kesan gemuk. Sedangkan  garis lurus vertical pada pakaian yang digunakan oleh orang gemuk, maka orang gemuk itu akan tampak atau berkesan kurus. Bentuk juga dapat menentukakan unsur visual pada gaya/style. Misalnya, dalam bentuk silhouette dengan bahan yang kokoh dapat menimbulkan kesan yang maskulin. Jadi semua unsur yang telah diuraikan, dapat memberikan nilai-nilai visual desain pada gaya/style.

 

2.7.            Pakaian Jepang

2.7.1.      Kimono

Kimono (bahasa Jepang: 着物 secara harafiah: “sesuatu yang dikenakan seseorang,” atau “pakaian”) adalah pakaian nasional Jepang. Bagi orang Jepang, kimono lebih dikenal dengan sebutan Wafuku (bahasa Jepang: 和服 secara harafiah: “pakaian Jepang”) atau Gofuku (bahasa Jepang: 呉服 secara harafiah: “pakaian dari zaman Go di Tiongkok”) untuk membedakannya dengan pakaian barat (Yofuku). Kimono yang dikenal sekarang ini berbentuk seperti huruf “T,” berupa mantel berkerah yang panjangnya sampai ke pergelangan kaki. Kimono untuk pria terdiri dari setelan atas-bawah, sedangkan kimono untuk wanita berbentuk baju terusan.

Cara memakai kimono dalam bahasa Jepangnya disebut Kitsuke. Peraturan dalam memakai kimono sangatlah terinci, mulai dari jenis-jenis kimono yang sesuai dengan acaranya, hingga aksesori yang sesuai dengan jenis kimono tertentu. Belajar mengenakan kimono juga bukan hal yang mudah, sehingga di Jepang banyak terdapat tempat kursus untuk belajar pakai kimono.

     (Gambar 2a).

Wanita yang mengenakan kimono

 

2.7.2.      Peran Kimono dalam Kebudayaan Jepang

 

Mengingat cara mengenakan kimono yang rumit dan harga kain tradisional untuk kimono yang mahal, kimono hanya dikenakan orang-orang Jepang zaman sekarang, baik pria maupun wanita, serta anak-anak sewaktu menghadiri acara-acara istimewa seperti hari-hari besar setempat atau mengikuti kegiatan seni dan olah raga yang bersifat tradisional.

Wanita yang sudah genap berusia 20 tahun tidak akan mau melewatkan kesempatan memakai kimono Furisode yang paling indah untuk menghadiri upacara Seijin Shiki. Begitu pula orang tua dan kakek-nenek merasa berkewajiban untuk mendandani anak-anaknya memakai kimono pada perayaan anak-anak yang berusia 7, 5 dan 3 tahun yang disebut Hichi-go-san. Selain itu, kimono banyak dikenakan oleh orang-orang yang bergerak dalam bidang industri jasa dan pariwisata, seperti pelayan wanita di restoran khas Jepang (ryotei) dan pegawai penginapan khas Jepang (ryokan).

 

1.      Kimono Wanita

Kimono untuk wanita terdiri dari berbagai jenis yang semuanya sarat dengan simbolisme dan isyarat-isyarat terselubung. Pilihan jenis kimono tertentu bisa menunjukkan umur si pemakai, status perkawinan (masih lajang atau sudah menikah), dan tingkat formalitas dari acara yang dihadiri.

 

2.      Kimono Pria

Kimono pria jauh lebih sederhana dibandingkan dengan kimono wanita. Kimono pria didominasi warna-warna gelap seperti hijau tua, coklat tua, biru tua, dan hitam.

 

Setelan Montsuki dengan Hakama dan Haori. Kimono pria yang paling formal disebut Montsuki yang di bagian punggungnya terdapat lambang keluarga (Kamon) si pemakai. Bawahan yang digunakan untuk Montsuki adalah celana panjang Hakama, sedangkan mantelnya disebut Haori.

Montsuki yang dipakai lengkap dengan Hakama dan Haori juga berfungsi sebagai pakaian pengantin pria. Selain sebagai pakaian pengantin pria, Montsuki lengkap dengan Hakama dan Haori hanya dikenakan pada waktu menghadiri upacara yang sangat resmi, seperti resepsi pemberian penghargaan dari Kaisar/pemerintah.

 

 

KIMONO – GEISHA

Geisha masih memakai kimono sebagai bagian dari pertunjukan dan pakaian tradisional mereka.

Wedding Kimono

Uchikake- kimono pernikahan. Dipakai oleh Pasangan pengantin tradisional Jepang.

Furisode Kimono

Kimono yang paling indah dan formal untuk Wanita-Wanita Dan Anak-Anak perempuan Jepang.

Yukata Kimono

Kimono  casual Musim panas yang dikenakan oleh Para laki-laki dan perempuan Jepang.

Houmongi Kimono

Kimono formal yang dikenakan oleh Wanita-Wanita Jepang yang menikah.

Tomesode Kimono

Kimono Formal Jepang  yang dikenakan oleh seorang Perempuan Jepang yang berfungsi khusus untuk keluarga.

 

                                           (Tabel  2a).

(www.japaneselifestyle.com KIMONO ENCYCLOPAEDIA)

 

2.7.3.      Harajuku

Street Style yang dalam terjemahan bebasnya diartikan sebagai gaya (mode) jalanan (Kompas 25 mei 1997) istilah ini muncul untuk memadai sisi lain dari dunia busana dan gaya berbusana, yang dipandang sangat berperan dan berpangaruh terhadap sejarah fashion dunia. Selain mengilhami masyarakat pengguna dan para desainer street style juga dianggap sebagai pertanda suatu perubahan dan penciptaan kebudayaan tersendiri diantaranya adalah runtuhnya dominasi kelompok “atas” dalam mengdikte sebuah gaya atau apa yang akan menjadi gaya, dibarengi dengan tunbuhnya iklim, dimana masyarakat mulai menyatakan kepribadiaannya sendiri.

Ted Polhemus dalam bukunya menegaskan tentang terjadinya pembalikan atas suatu realita dimana kelompok atas justru mengadapdasi gayajalanan setelah pada tahun 1960-an timbul kesadaran bahwa kebudayaan bukanlah hak prerogative kelompok sosial ekonomi atas. Jadi menurut Ted perubahan struktur atau stratifikasi sosialah yang menimbulkan kesadaran itu. (Ted Polhemus, 1987;h.6)

Pada jaman sekarang banyak sekali street style yang bermunculan di negara Jepang, banyak sekali gaya/style yang sangat terkenal yang merupakan pengadopsian gaya/style dari negara lain, diantaranya Japanese street fashion. Salah satu gaya/style jeapng yang sedang marak adalah gaya/style Harajuku.

Gayajalanan merupakan gayaberbusana terbaru di pusat Tokyo, mulai dari pakaian remaja wanita sampai pada gaya yang ekstrim atau paling menonjol yaitu Gothic Lolita. Nama Harajuku ini diambil dari nama sebuah kawasan kecil di Tokyo, tepatnya daerah sekitar Stasiun Harajuku, yang dekat dengan Shibuya. Di kawasan Harajuku inilah para remaja mempunyai kebiasaan berpakaian ”aneh” dan tidak lazim. Mereka bebas berekspresi dan berdandan yang terinspirasi dari para tokoh animasi Jepang. Mulai potongan rambut, baju, celana, rok mini, sepatu, sampai make up menyerupai tokoh kartun Jepang.

Dandanan Gaya Harajuku yang seram seperti dandanan gotik, sama dengan gaya dari V-Kei, atau yang lebih feminim  dan lucu seperti lolita. Di hari minggu, biasanya mereka berkumpul di suatu tempat di kawasan Harajuku, tepatnya di Jalan Takeshita Dori dan bergaya Cosplay (Costume Play). Tempat berkumpul ini merupakan tempat yang kecil, hanya sekitar dua kali luas lapangan basket. Karena keunikan dandanan mereka, banyak turis yang ingin sekali berfoto bersama. (http\\www. Japaneselifestyle.net)

Tetapi yang menjadi sorotan adalah tren gaya Harajuku, karena gaya Harajuku merupakan gaya/style yang sangat unik. Dimana tren ini mempunyai karakteristik yang berbeda dengan gaya-gaya lainnya. Dalam kajian ini, peneliti melakukan kajian pada gaya Harajuku. Adapun hal yang mendasar pada kajian gaya Harajuku adalah sebagai berikut :

 

2.7.3.1.   Sejarah dan Pengertian Harajuku

 

Sebagian orang mungkin sudah tahu apa itu Harajuku, Harajuku adalah salah satu kotadi Tokyoyang merupakan pusat hiburan dan belanja untuk anak-anak muda yang trendi. Banyak sekali toko, butik, tempat makan dan café dengan berbagai macam desain baju didalamnya bisa ditemukan di kotaini. Wajar saja kotaHarajuku dikenal dengan fesyen capital. Harajuku Girls, setiap anak perempuan muda yang ada di seputar jalan Harajuku dinilai sebagai anak yang paling trendy dan fashionable di seluruh dunia. Bahkan terkadang menjadi inspirasi bagi dunia fesyen di berbagai Negara.

Harajuku adalah sebuah istilah yang merujuk kepada gaya-gaya berbusana yang muncul dan tumbuh dijalanan yang mempunyai kesamaan seperti halnya gaya-gaya Street Style. Gaya Harajuku dapat dikatakan dengan gaya Street Style Jepang. Gaya-gaya yang muncul tersebut telah menjadi catatan dalam sejarah fesyen dunia karena dianggap menpunyai pengaruh dan andil di dalam gejolak fesyen dunia, baik sebagai sumber ide, maupun sebagai pemicu berkembangnya industri fesyen. Harajuku dianggap mengandung muatan budaya sosial, sebab dari berbagai sumber, penulis mendapat berbagai komentar yang mendukung kearah itu. Pernyataan tersebut adalah :

  1. Gaya Harajuku kerap dihubungkan untuk melukiskan dandanan dan cara berpakaian dari kebudayaan materi subkultur.
  2. Gayaini juga lebih bersifat individual, umumnya melanda kaum muda, yang merupakan ekspansi darigayayang tidak mempunyai kaitan dengan panggung-panggung peragaan busana. Harajuku separuhnya karap berhubungkan dengan pernyaan-pernyataan pribadi, yang berakibat pada suatu perbedaan gaya-gaya yang berubah dari hari ke hari.
  3. Merupakan produk subkultur yang dapat berupa pelepasan atau sumbangan terhadap kebebasan, seperti gaya hidup, seksualitas dan polotik.
  4. Gayayang menitik beratkan pada identitas, cara berpakaian dan dandanan tubuh sukultur ini, merupakan simbol-simbol nyata dari keanggotaan yang menggambarkan loyalitas terhadap kesamaan prinsip dan sekaligus perbedaan mereka terhadap dunia pada umumnya. (a-d, Ami de la Haye, 1966, h. 5-7).
  5. Gayayang bermula di jalanan ini, telah mempengaruhi berbagai perancangan dan peragaan oleh para model kelas atas diberbagai panggung peragaan busana dunia yang bergengsi. (Ted Polhemus, 1987;h.7)

Harajuku itu sendiri mempunyai berbagai tingkatgayadan ciri masing-masing termasuk awal atau sejarah kemunculannya yang dianggap paling menentukan di berbagai tempat (tepatnya jalanan) yang bersejarah yaitu diTokyo.

Salah satu gayaberbusana yang menurut Ted, seorang pengamat gaya berbusana dan gaya hidup jalanan, dari anak muda Jepang yang memengaruhi dunia adalah apa yang disebut Supermarket of Style.

Gaya ini muncul dari Jepang pada awal 1990-an di mana gaya berbusana jalanan dari Barat dan setidaknya 50 subbudaya Barat selama 50 tahun telah menjadi obsesi dan sumber inspirasi mereka.

Obsesi pada subbudaya Barat gayajalanan itu juga tampak di Omotesando pada sebuah hari Minggu sektiar 10 tahun lalu. Dengan membawa tape recorder, sekelompok anak muda memutar lagu-lagu dari Saturday Night Fever dan mereka menari berpasangan di jalan yang ditutup untuk kendaraan umum. Mereka berdandan dalam busana tahun 1950-an dengan gaun sepanjang tengah betis yang rok kloknya melebar dan dipadu kardigan, dalam warna merah dan putih.

Di sudut yang lain, sekelompok perempuan muda mengecat rambut mereka dalam aneka warna dan rias mata dominan hitam, sementara tubuh mereka juga dibalut baju hitam dengan sepatu bot hitam.

Adapun pengertian lain tentang Harajuku adalah sebagai berikut:

Harajuku, merupakan salah satu sentral fashion street di Jepang yang belakangan ini sangat menarik minat anak muda dunia, termasuk Indonesia. Gaya, pilihan warna dan corak pakaian yang dikenakan para pemuda di seputar Harajuku banyak ditiru oleh kalangan muda Indonesia. Kehadiran anak-anak muda dengan dandanan ‘ala Harajuku’ sangat mudah ditengarai di pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota besar di Indonesia. Umumnya mereka memiliki perhatian khusus pada produk budaya pop Jepang seperti anime, cosplay dan juga musik serta bahasa Jepang. Anak-anak muda ini hadir membawa produk persilangan budaya baru yang merupakan perpaduan dari budaya Jepang dan budaya Indonesia.(KOMPETISI DESAIN FASHION EKSPERIMENTAL.mht)

 

2.7.3.2.   Jenis-jenis Gaya Harajuku

  1. a.   Kogal

(Gambar 2b). Kogal

 

Kogals(コギャル kogyaru, berati (“small/child anak perempuan”) adalah suatu cabang kebudayaan anak-anak perempuan dan wanita-wanita muda dikota Jepang, salah satu dari beberapa jadi buah bibir masyarakat jepang. Mereka memperlihatkannya dengan jelas bahwa penampilan mereka menanpilkan yang unik dalam  bergaya, musik, dan aktivitas sosial. Secara umum, kogal dilihat  dengan kasar seperti  anak perempuan dari lembah California dengan kulit sawo matang karena berjemur, dan tentu saja, persamaan diantara keduanya menyampaikan masa, karena kedua-duanya merupakan cabang kebudayaan yang sudah populer dimasa kini (コギャル語 “ko-gyaru-go”). Kogals janganlah disamakan dengan ganguro, karena keduanya merupakan cabang kebudayaan, walaupun serupa.

Kogals dikenal dengan memakai sepatu boot platform, rok mini, dengan make-up yang tebal, rambut yang diwarnai (pada umumnya berambut putih), dengan kulit berwarna coklat karena berjemur, dan menggunakan berbagai aksesoris. Jika seragam sekolah, yang nampak secara khas dengan rok yang menjepit sangat tinggi dan kaos kaki yang lepas atau  kaos kaki yang longgar dan besar yang mencapai lutut). Kogals’ selalu sibuk dengan kehidupan sosial dan menginginkan barang-barang material yang baru dan bagus di antara konsumen di Jepang, dan dengan seperti itu mereka merasa seperti menggunakan Burberry Syal dan Louis Vuitton tas tangan. Kogals melewatkan banyak waktu dengan cuma-cuma (dan mereka mendapatkanya dari orangtuannya) untuk belanja, dan budaya mereka berpusat di sekitar Shibuya Daerah Tokyo, khususnya 109 km yang menghubungkannya, walaupun kota besar Jepang pasti mempunyai sedikitnya suatu populasi kecil. Sepanjang musim panas, kogals kadang-kadang bisa dilihat  di pantai. Mereka biasanya tidak berada dipusat perbelanjaan.

Peristiwa Kogal muncul dipertengahan 1990-an dan pengaruhnya bisa terlihat setiap hari sebagai sub kategori off-shoots, walaupun terasa konservatif dalam berpakaian dan rambut yang diwarnai nampak adanya kemajuan. Dengan cukup menarik, Gothic Lolita yang estetis telah diuraikan sebagai reaksi kepada yang melihat kogal.

Istilah etimologi yang diperdebatkan adalah : teori yang paling umum yang telah diperoleh dari kata(An) untuk Jepang” sekolah menengah” ,kōkō (高校), walaupun pernyataan orang lain bahwa itu datang dari ko(子), untuk kata(An) Jepang bararti “anak perempuan” atau ” anak”. sedangkan” gal” memulai dari Bahasa Inggris.

Sistem pembahasan:

  1. Ornamen atau ragam hiasan : sepatu boot platform, rok mini, dan make-up yang tebal, serta rambut yang diwarnai.
  2. Warna : kulit berwarna coklat
  3. Kesan : feminin dan dewasa.

 

b.   Ganguro

                        (Gambar 2c). Ganguro

 

Ganguro (ガングロ), wajah wanita Jepang yang benar-benar hitam adalah sebuah tren gaya Jepang yang banyak diantara wanita Jepang yang mana gaya ini terkenal  pada tahun 1990-an.

Ganguro (ガングロ), yang secara harafiah ” black-face”, adalah suatu kecenderungan gaya Jepang di antara anak-anak yang sebagian banyak perempuan Jepang di puncak ketenaran akhir 1990 pada awal 2000an, suatu perkembangan chapatsu dengan rambut yang dicat. Shibuya dan Ikebukuro daerah Tokyo adalah pusat gaya/style Ganguro.

Dilihat dari dasar  rambut yang diwarnai, warna coklat, pada kedua matanya menggunakan eyeliners hitam dan putih, bulu mata sambung/palsu, sepatu platform (yang pada umumnya menggunakan sandal atau sepatu boot), dan dengan mewarnai semua perlengkapannya. Juga yang khas dari “Ganguro Gal” terlihat  pada telepon cell yang ditutup dengan stiker purikura, sarong tie-dyed, mini-skirts, jepit rambut dengan motif bunga sepatu, dan gelang, cincin dan kalung.

Para pengikut cenderung lebih ekstrim dalam mewarnai rambut mereka dengan platina putih, dengan menggunakan warna yang lebih coklatan, memakai lipstik putih, eye shadows berwarna yang beraneka warna dan metalik kecil atau glittery yang mudah lengket di sekitar velk alas rongga mata ( Look Yamanba). Ganguro Populer Surat kabar meliputi: Telor, Popteen, dan Sistem Ego.

Di suatu wawancara dengan Tony Barrell, Pencipta majalah yang bernama Fuits, Shoichi Aoki, menyatakan: ” Ganguro adalah suatu peristiwa yang terjadi di Shibuya, sekitar 1km jarak dari Harajuku membicarakan secara total tentang mereka yang berbeda dari gaya-gaya lain. Hanya sedikit sekali kami mencakup ganguro di dalam majalah, jika mereka datang dari suatu misteri, tak seorangpun benar-benar mengetahuinya. Tetapi ada beberapa spekulasi yang menyebutkan bahwa mereka adalah anak-anak perempuan yang telah jatuh hati atau terpesona dengan Janet Jackson atau Musisi Amerika  yang berkulit hitam atau barangkali Naomi Campbell, supermodel.

Adabeberapa perselisihan melingkupi etimologi ” ganguro.” tersebut. Banyak yang mengklaim dirinya sendiri, ” Wajah hitam”.  ada juga yang menyebutkan dirinya sendiri sebagai Ganguro, sebab orang-orang banyak  melihat ia/dirinya sebagai pembenci suku bangsa lain dan membandingkan kepada wajah hitam dari kultur pada tahun1900an di Amerika

Persepsi Ganguro di manga Jepang

Peach Girl Manga

Peach Girl” adalah suatu manga secara minimal menyertakan ganguro  phenomenon, sebagai pemeran utama Momo yang salah dengan anggapan untuk menjadi picik dalam kaitan dengan kulit berwarna coklatnya. Bagaimanapun, dia menyangkal menjadi classed seperti ‘Ganguro’ karena seluruh storylines, mengklaim bahwa diantara keduanya, rambut dan kulit nya warna sudah datang secara alami.

Sistem pembahasan:

  1. Ornamen atau ragam hiasan : sepatu boot platform, warnai semua perlengkapannya, handphone menggunakan sticker purikura, sarung tie-dyed, mini skirts, jepit rambut dengan motif bunga sepetu dan menggunakan gelang, kalung dan cincin, serta dengan mewarnai rambutnya dengan warna yang lebih kecoklatan, memakai lipstik berwarna putih dan menggunakan eyeshadow dengan beraneka warna dan glitter pada matanya.
  2. Warna : kulit berwarna coklat dan mata berwarna hitam dan putih (menggunakan eyeliner)
  3. Kesan : feminim

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. c.    Lolita/Gothic Lolita

 

(Gambar 2d). Gothic Lolita/Lolita

 

Gothic Lolita atau Goth Loli adalah sebuah gaya/style Jepang diantara sekelompok anak muda dan remaja. Kaum wanita bergaya kuno dan kemudian sering kali meniru Victorian porcelain dolls.

Gothic Lolita atau ” Gothloli”(ゴスロリ,, Gosurori; atau dapat dikatakan “Loli-Goth”) adalah suatu gaya/style kaum muda antar sekelompok wanita-wanita muda Jepang. Gaya  tersebut menekankan pada pakaian Victorian-Style girl’s dan sering juga mengarahkan untuk meniru wajah dari Boneka Porselin Victorian. Asal dan nama Gothloli’s adalah suatu kombinasi gaya/style lolita  tujuan untuk memperlihatkan childish dan gaya tertentu yang ditemukan di dalam fesyen gothik. Gaya/style ini dimulai sebagai cabang kebudayaan kaum muda di sekitar tahun 1997-1998an dan menjadi suatu gaya yang berkedudukan kuat yang tersedia di berbagai butik dan beberapa toko serba ada utama oleh di sekitar tahun 2001. Gothic Lolita adalah salah satu dari subkategori wajah Lolita. Kategori lainnya meliputi ” Lolita Klasik” (yang tradisional, light-coloured, juga lebih mature-looking) dan “Sweat Lolita” (pakaian pastel-coloured kekanak-kanakan, kelompok renda dan pita).

Gothic Lolita telah dipengaruhi oleh popularitas dari Visual band Kei, tetapi gaya ini lebih  dibuat feminin (atau “visual rock”). Visual kei adalah suatu Format musik rock jepang  yang digambarkan oleh band meliputi pemain musik di dalam kostum yang rumit, yang lebih pada gaya gotik dan punk dengan gaya musik yang bervariasi. Dimana, berpakaian gitaris dan pemimpin terdahulu visual kei yaitu band Mizer secara luas dihargai setelah dibantu dengan popularise Gotik Lolita. Ia berhubungan dengan istilah “Elegant Gothic Lolita” (EGL) dan  “Elegant Gothic Aristocrat” untuk menguraikan gaya dari label fesyen yang dimiliknya Moi-Même-Moitié, yang telah ditemukan pada tahun 1999-an  dan dengan cepat mendirikan dengan menetapkan dirinya sendiri seperti salah satu dari merek yang didambakan Gotik Lolita.

Sistem pembahasan:

  1. Ornamen atau ragam hiasan : liukan renda-renda pada pakaiannya, pita dengan bentuk kupu-kupu atau buga-bunga, topi, sepatu boot, pakaian pastel-colored. Pakaiannya menggunakan Victorian-style girl’s yang sering meniru wajah dari boneka Porselin Victorian.
  2. Warna : pada gothic lebih banyak menggunakan warna hitam pada keseluruhannya, dan pada Lolita cenderung lebih manis dengan warna pink dan putih.
  3. Kesan : genit, kekanak-kanakan (Childish).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. d.   Cosplay

(Gambar 2e). Cosplay

Cosplay (コスプレ, kosupure), singkatan (or portmanteau) dalam bahasa Inggris “costume” dan “Play“, adalah suatu cabang kebudayaan Jepang yang terfokus pada cara berpakaian sebagai karakter dari manga, anime, tokusatsu, dan game video, dan biasanya lebih sedikit. Jepang hidup dari pertunjukan televisi, film fantasi, atau dari musik populer dari band Jepang. Bagaimanapun, dalam suatu lingkungan, “Cosplay” telah digabungkan dengan memakai beberapa kostum.

Di Jepang, “Cosplay” telah menjadi kegemaran dan biasanya sampai untuk dirinya sendiri. Orang-orang berpikiran untuk menggabungkan kostum lain, dengan ciptaan yang lebih kreatif, mengambil beberapa gambaran, dan mungkin mengambil bagian dari  kontes kostum terbaik.

Cerpen lucu yang paling spesifik tentang asal kata “cosplay” Nov Takahashi (dari studio Jepang menghubungi Studio Hard) istilah lain dari “cosplay” adalah singkatan dalam bahasa Inggris “Costume Play” saat dia sedang menghadiri Fiksi Ilmiah Los Angeles Worldcon 1984. Ia menjadi sangat yang terkesan ketika di aula dan kostum pesta topeng, disana ia melaporkan tentang majalah  Fiksi ilmiah Jepang.

Cosplay trends

Suatu kecenderungan terbaru pada Jepang kejadian Cosplay adalah suatu peningkatan dalam ketenaran dari karakter film yang populer dan khayalan Jepang. Dalam kaitannya dengan sukses di internasional seperti  film Matriks, Lord of the Rings. Karakter dari film Harry Potter mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi penggemar wanita di Jepang, dengan salah seorang cosplayers wanita  bermain baik. Draco Malfoy menjadi pilihan yang populer.

Tindakan cosplaying sebagai karakter lawan jenis disebut ” crossplay” (cross-dressing cosplay). Suatu bagian kecil yang tergolong bidang ini adalah dollers, subset kigurumi cosplayers; pada umumnya pria memakai bodysuits dan mengubah bentuk ke dalam karakter wanita.

Kecenderungan terbaru lain di cosplay adalah suatu blurring pembedaan antara kostum berdasar pada karakter dari  game dan  anime, dan yang “asli” kostum mendasarkan di atas tema umum atau pertunjukan ada. Khususnya, Tokyo teen-fashion cenderungan pada Gothic Lolita yang telah menarik beberapa cosplayers yang tidak boleh mempunyai kecenderungan (atau mungkin keberanian) untuk memakai. Seperti pakaian membedakan di sekitarkota, tetapi siapa yang bermaksud berpakaian sedemikian rupa pada  beberapa kesempatan.

Sistem pembahasan:

  1. Ornamen atau ragam hiasan : menggunakan costum dari karakter manga, anime, dan video game. Hiasan bulu-bulu pada seluruh tubuhnya, kecuali wajah. Melukis wajahnya sesuai dengan karakter. Rambut yang acak-acakan.
  2. Warna : pakaian dengan dipenuhi oleh bulu-bulu yang berwarna-warni. Setiap orang mengunakan warna yang berbeda, tetapi dari kepala sampai kaki berwarna sama (satu warna) atau satu orang satu warna. Warna-warna yang biasa digunakan adalah merah, biru, hitam, kuning dan sebagainya.
  3. Kesan : ramai

 

Adapun jenis-jenis lain dari gaya/style Harajuku antara lain:

  1. Teenage Romance No Future adalah konsep desain dengan dandanan yang eksentrik dan berwarna sehingga model dari fesyen tersebut adalah gabungan dari desain street wear dengan pakaian pengantin jepang yaitu kimono dengan tambahan aksesoris.

 

 

 

(Gambar 2f). Teenage Romance No Future

Sistem pembahasan:

  1. Ornamen atau ragam hiasan : mengunakan kimonoyang digabungkan dengan street wear, tato, menggunakan aksesoris yang ekstrim.
  2. Warna : mengunakan warna yang tidak terlalu mencolok, karena sesuai dengan kimono yang digunakan.
  3. Kesan : feminin dan menghilangkan kesan sopan dari pakaian kimono.

 

  1. Unformal Blazer adalah penggabungan antara Harajuku dengan anak muda dan kerapihan. Gaya tersebut adalah blazer di mana selalu identik dengan acara formal, sehingga dimodifikasikan dengan perpaduan antara blazer model unfinish dengan jeans modifikasi pendek yang pakaiannya dipadu dengan celana legging lubang-lubang. Blazer model unfinish ini akan memberi kesan blazer modifikasi baru dengan menghilangkan keresmiannya.

 

(Gambar 2g). Unformal Blazer

 

Sistem pembahasan:

  1. Ornamen atau ragam hiasan : menggunakan aksesoris kalung rantai, gespes spike, sepatu boot, mengenakan pakaian Blazer, celana pendenk selutut, celana leging lubang-lubang
  2. Warna : untuk pakaian ini tidak terpatok oleh warna (bebas menggunakan warna apapun).
  3. Kesan : tidak formal

 

  1. Gothic harajuku adalah gaya berpakaian yang lebih berani dengan memadukan gaya berbusana yang lebih berani dengan dandanan wajah yang berani dengan menggunakan make-up hitam dan menggunakan softlens putih pada matanya Biasanya mereka sering menggunakan pakaian yang berwarna hitam.

 

(Gambar 2h). Gothic

Sistem pembahasan:

  1. Ornamen atau ragam hiasan : sepatu boot, pakaian serba hitam, mengunakan aksesoris kalung dengan model duri, mata dengan menggunakan softlens putih untuk dapat mengesankan seram
  2. Warna : hitam
  3. Kesan : seram.

 

  1. Punk harajuku adalahgaya berpakaian yang lebih menonjolkan aksesoris yang lebih ekstrim dan menggunakan gelang-gelang atau kalung yang lebih mengesankan seram. Tidak hanya itu, tetapi didukung juga dengangaya rambutnya yang mendukung. Biasanya pakaian yang digunakan adalah celana yang mengetat dan sepatu yang tinggi.

 

(Gambar 2i). Punk

Sistem pembahasan:

  1. Ornamen atau ragam hiasan : sepatu boot, rambut yang diwarnai, pakaian hitam dengan menggunakan belt pada pakaiannya, tangan dan kaki, celana yang mengetat, menggunakan gelang-gelang atau kalung yang lebih mengesankan seram.
  2. Warna : warna hitam, biru
  3. Kesan : seram dan tegas.

 

  1. Vintage Harajuku adalahgaya pakaian yang memadukangaya tahun 70-an dengan mengunakan motif-motif daun, bunga, buah-buahan, hewan, bunga-bunga ataupun motif-motif lainnya. Pada pakaian yang ramai sehingga terlihat glamour. Biasanya menggunakan celana legging dengan bahan spandex.

 

           (Gambar 2j). Vintage

Sistem pembahasan:

  1. Ornamen atau ragam hiasan : sepatu boot, rambut dengan memakai bandana/bando, gaya 70-an, pada pakaiannya selalu menggunakan motif-motif bunga, daun, hewan, buah-buahan atau bentuk-bentuk lainnya seperti kotak, bidang yang tak beratuaran dan lainnya. Dengan pengulangan gambar dan warna-warna yang ramai dan mencolok. Dan selau membawa payung dan tas sebagai aksesoris.
  2. Warna : warna yang digunakan adalah warna hijau, merah, putih, coklat yang digambungkan menjadi satu dalam motif, sehingga menghasilkan warna yang ramai.
  3. Kesan : ramai.

 

  1. Lonely Swan adalah sebuah preentasi dari personal perempuan jepang yang tinggal di sebuah kota yang ramai dan padat, khususnya adalah kota Harajuku. Sesama individu sudah tidak lagi saling menyapa karena kesibukannya menjadi etalase bagi dirinya sendiri. Swan adalah perwujudan makhluk yang sering di hadirkan menyendiri

 

                  

             (Gambar 2k). Lonely Swan

Sistem pembahasan:

  1. Ornamen atau ragam hiasan : sepatu boot, rambut yang panjang, mengunakan sayap, bentuk rok yang melebar, dan membawa tas sebagai aksesorisnya.
  2. Warna : warna hitam pada roknya dan putih pada bajunya. Dengan rambut yang berwarna pirang.
  3. Kesan : sepi

(www.japaneslifestyle.net)

 

2.7.3.3.   Peran Harajuku dalam Desain Fesyen

 

Gaya Harajuku yang pada dasarnya adalah gayajalanan dari kotaTokyotelah memberikan banyak inspirasi terhadap Fesyen Desainer dan dunia industri serta perdagangan. Tidak diherankan lagi gaya Harajuku dalam Desain fesyen amat diperhitungkan oleh para perancang dan rumah-rumah mode di seluruh dunia, mengingat potensinya yang besar, baik dalam orisinalitas, maupun potensi ekonominya. Ternyata tidak hanya desainer dari Tokyo jepang saja, tetapi juga para desainer fashion dunia yang diantaranya adalah Bruberry dan Ralph Lauren, mengembangakan busana casual dengan referensi-referensi subkultur, sementara Louis Vuitton dan Gucci mengembangkan gaya-gaya B-Boys, Chanel mewakili gaya-gaya Rangga Gilrs pada tahun 1985-an. Sejarah juga mencatat, bahwa Giani Versace, pernah memungut ide dari style/gaya Harajuku untuk koleksinya di tahun 1994, dimana ia mengadaptasi jaket kulit dari kelompok pengendara motor perfecto yang dikenal sebagai jaket Bronx. (Laver, 1985)

 

2.7.3.4.   Karakter  Harajuku

 

Berbusana memiliki nilai-nilai didalamnya. BegitupungayaHarajuku mempunyai nilai-nilai yang berbeda dengan cara berbusana pada umumnya, diantaranya sebagai berikut :

  1. Kebebasan berekspresi
  2. Ekspresi diri
  3. Jujur
  4. Pemberontakan
  5. Pelarian
  6. Kebebasan dalam berbusana
  7. Gayaberbusana tanpa adanya batasan
  8. Tidak ada aturan
  9. Kreatif
  10. Unik dan berbeda

 

2.7.3.5.   Harajuku dalam Gaya Grafis

 

Gaya Harajuku mempunyaigayagrafis yang berbeda dengan yang lain. Karakter grafis yang cenderung lebih pada gaya Harajuku itu sendiri. Seperti grafis yang dituangkan pada produk pakaian seperti kaos, banyak menampilkan jenis-jenis gaya Harajuku, misalnya gaya Harajuku Gothic Lolita yang dituangkan pada karya grafis. Karakter lainnya sebagai berikut :

  1. Memadupadankan warna yang bertabrakan
  2. Menyatukan warna dan grafis tanpa adanya batasan untuk menuangkan ekspresi kedalam grafis tersebut. Seperti busana kimono dengan karakter manga disatukan menjadi sebuah karya grafis yang berkarakter gaya Harajuku.
  3. Menyatukan gambar/visual yang berbeda.
  4. Berani menampilkan warna

Dalam visual desain warna yang terdapat pada kriteria Harajuku adalah tanpa batas. Dalam artian bahwa Harajuku tidak pernah terpatok olah warna. Harajuku menggunakan warna dengan sesuka hati, tetapi tanpa menghilangkan teori-teori dari desain, seprti harmoni, balance , komposisi dan sebagainnya

 

2.7.3.6.   Harajuku Semangat Untuk Kebebasan 

 

Jepang masih sangat baik dengan mengikuti atau masih cenderung dengan budaya dari Barat, maka jika berjalan di sepanjang jalan butik Takeshita di Harajuku akan sering melihat teenagers memakai pakaian mod. Harajuku adalah suatu mecca untuk artis, semangat yang mandiri, dan berkembang dengan kecenderungan fesyen yang menyediakan suatu ruang tentang ungkapan cuma-cuma didalam apa yang  biasanya Kultur Jepang yang tidak konservatif. Tetapi gaya Jepang bukan ketakutan untuk mengambilnya untuk satu langkah lebih lanjut mendandani dengan kostum yang dilihat sebagai unsur utama fesyen, maka tak seorang pun akan melihat suatu  pada seorang anak perempuan cantik yang memakai plastik pada lehernya sebagai statemen pertunjukan.

Hal yang baik tentang Jepang dan gaya Harajuku adalah bahwa tak satu  kasus toko dan merek pun (seperti Gap) mengdikte pakaian orang-orang, tetapi teenagers (anak muda) mendikte apa yang akan dimulai untuk dijual ditoko.

Sekarang ada banyak pakaian dan websites yang menjual gaya Harajuku, hanyalah gaya yang semangat Japanese ini yang telah membangkitkan teenagers yang tidak ketakutan pada customise dan accessorise pakaian mereka sendiri, dan untuk memakai perlengkapan bobrok/gila dengan suatu rasa humor untuk membalas dendam melawan terhadap harapan sosial tentang pakaian langsung, pekerjaan langsung, sikap langsung.

 

2.7.3.7.Bagaimana Cara Memakai Gaya Harajuku

 

Di dalam memakai gaya Harajuku mempunyai cara pemakaianya dan apa yang harus dipakainya. Berikut merupakan cara bagaimana memakai gaya Harajuku;

  1. Kreatif
  2. Mengenai teater
  3. Mix and match
  4. Look cute
  5. Mempunyai rasa humor
  6. Yakin memakai pakaian yang mencampur gaya dan pengaruh
  7. Yakin memakai pakaian yang mempunyai bentuk aneh
  8. Jika kamu pergi untuk warna terang, meyakinkan kamu mempunyai yang tidak biasa, kesenangan yang kontras
  9. Jika kamu menggunakan make-up, pakailah make-up warna hitam
  10. Yakin yang ada di wajahmu pada saat itu.
  11. Semua yang diatas, suka bergaya.

2.7.3.8.   Hambatan Kultur dalam Gaya Harajuku

 

Didalam mengenakan fesyen pasti ada hambatan, apalagi dengan gaya Harajuku yang mempunyai kultur yang berbeda dengan kultur yang ada di negara ini. Karena dengangayaHarajuku yang lebih berani dalam mengekspresikan busananya, maka akan adanya ketidakpercayaan diri didalam mengenakannya. Jika dilihat kesehariannya,gayaberbusana di negara ini lebih beraturan. Seperti yang dijabarkan dibawah ini ;

  1. Gaya Harajuku di Indonesia masih ada hambatan kultur. Orang-orang masih malu-malu berekspresi melalui penampilan, dan masih kurang percaya diri.
  2. Gaya Harajuku hanyalah mode, seperti mode lain, dimana Harajuku akan tunduk pada hukum mode. Seperti yang telah diungkapkan oleh penulis mode Ballarn “Fashion are born and they die too quickly for anyone to learn to love them.”.

(Kompas, 2006)

 

About truestoryeka

eka true story adalah operator warnet Cyber Flash Net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s